Tanam Kedelai di Bantul, Mega Ajak Jokowi

065456_jokowimega2

Yogyakarta, (detikNews.com) – Minggu, 29/09/2013. Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri kembali melibatkan Joko Widodo dalam kegiatan partai di daerah. Mega mengikutsertakan Jokowi menanam kedelai di Bantul, DIY.

Selain Jokowi, Mega juga mengajak kepala daerah lainnya yang berasal dari PDIP termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Bupati Bantul Sri Surya Widati. Jokowi diketahui sudah terbang ke Yogyakarta pukul 06.00 WIB, Minggu (29/9/2013) dari Bandara Soekarno-Hatta. Jokowi duduk di kelas ekonomi.

Pagi ini Mega akan menanam kedelai bersama 2.500 petani se-DIY di Desa Tirto Hargo, Kretek.
“Dalam rangka mewujudkan kedaulatan Pangan, PDIP bersama Kelompok Tani se-DIY akan melaksanakan program penanaman perdana kedelai untuk kedaulatan pangan dan penyerahan bibit yang akan dilaksanakan Ibu Megawati,” ujar Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Eko Suwanto.

Menurutnya, komitmen PDIP sebelumnya telah dilaksanakan, misalnya dengan program perlindungan petani di Bantul dan pencanangan bibit unggul di Kulonprogo, pemberdayaan desa mandiri di Ngawi dengan berbagai regulasi yang disusun dan dilaksanakan untuk meningkatkan pendapatan rakyat pedesaan.

“Di tingkat nasional, PDIP konsisten menolak impor hasil produksi pertanian dan mendorong petani berdaulat dan berdikari dengan kebijakan dan APBN yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Eko.Minggu, 29/09/2013 06:56 WIB

Bangunan Rusak Akibat Abrasi, Pedagang Tetap Tak Mau Pindah

abrasi-pantai-selatan

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Warga yang tempat usahanya terkena dampak abrasi Pantai Depok, berencana akan kembali merenovasi bangunan yang telah rusak. Hal itu akan dilakukan setelah kondisi gelombang pantai selatan dirasa kembali normal.

Seorang pemilik rumah makan yang tempatnya sebagian telah terkena abrasi Pantai Depok, Asih, mengaku, sampai saat ini dirinya belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang ancaman bahaya abrasi dari pemerintah.

“Belum pernah ada sosialisasi sama sekali kok di sini, entah dari pemerintah maupun yang lain soal abrasi,” katanya saat ditemui Tribun Jogja di rumah makan miliknya itu, Selasa (24/9/2013).

Menurutnya, meskipun pemerintah memiliki wacana untuk menertibkan pedagang dan meminta pedagang menjauh dari pantai, hal itu tidak menjamin di lokasi baru tersebut akan meningkatkan pendapatan.

“Lagi pula mau kalau direlokasi mau ditempatkan di mana? Kalau dipindah memangnya pendapatan akan membaik?” katanya.

Pihaknya justeru berncana akan melakukan renovasi bangunan yang sebelumnya terdampak abrasi hingga bagian bawah bangunan terdapat rongga akibat tergerus arus. Sebab, menurut warga ombak besar di pantai selatan tidak akan terjadi terus menerus, melainkan hanya di waktu-waktu tertentu.

“Ombaknya itu kan biasanya besar kalau saat kemarau, kalau masuk musim penghujan nanti juga biasanya normal. Malahan nanti pedagang sini mau merenovasi kembali setelah ombaknya normal, paling sebulan lagi,” katanya.

Lurah Desa Parangtritis yang juga Ketua Koperasi Mina Bahari Pantai Depok, Topo mengatakan, Abrasi memang fenomena alam dan masyarakat akan menerima apapun konsekuensi yang harus dihadapi.

“Sekarang kena musibah kita terima, sebenarnya memang masyarakat mengerti salah mendirikan bangunan di sepadan pantai jadi ya biarkan saja. Kalau mau membantu misalnya Rp 1 juta ya silakan terserah,” kata Topo saat ditemui di ruang kerjanya.

Ia mengatakan, yang terjadi saat ini kawasan pinggir pantai merupakan ladang emas, sebab biasanya pengunjung memilih makan sambil menikmati pemandangan laut. Sementara warung yang letaknya agak jauh dari bibir pantai terbukti kurang diminati.

Pihaknya juga menolak rencana pemerintah untuk melakukan penataan kawasan pantai dengan memberi jarak pendirian bangunan minimal 200 meter. Topo menegaskan bahwa masyarakat memilih menerima kondisi alam sebagaimana yang terjadi turun temurun.

“Kalau dipindah juga belum tentu menyelesaikan masalah, kalau ga laku gimana? kan malah menambah masalah baru,” katanya.

Pihaknya pun meminta pada pemerintah tidak perlu melakukan penataan. Karena dari 70 warung di sekitar Pantai Depok, lanjut Topo, seluruhnya sudah sepakat tidak bersedia berpindah dan tetap akan berjualan di kawasan tersebut.

“Itu kena abrasi tapi lama kelamaan akan pulih, kalau ga pulih pun ga masalah biarkan saja. Biarkan kondisi sosial warga sini berjalan sesuai keinginan batin,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Bantul, Sri Suryawidati mengatakan, tidak ada rencana relokasi warga dari pesisir pantai sebab bangunan tersebut bukan tempat tinggal melainkan hanya tempat usaha. Selain itu, bangunan tersebut seluruhnya tidak memiliki ijin.

Pihaknya pun mengaku sudah melakukan sosialisasi terkait bahaya abrasi pesisir pantai selatan.

“BPBD sudah mensosialisasikan pada semua tokoh masyarakat,” kata istri mantan Bupati Bantul Idham Samawi itu.

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan jajaran Muspida Bantul, dan hasilnya akan dibuat garis pantai sepanjang pesisir pantai selatan. Sehingga nantinya tidak boleh ada bangunan berjarak 200 meter dari garis tersebut.

Untuk realisasi pembuatan garis pantai itu, lanjutnya, pihaknya akan menggelar koordinasi dengan Satpol PP dan mengundang tokoh masyarakat serta koordinator masing-masing kelompok masyarakat pesisir.

“Sebab ini juga urusan perut. Sudah disosialisasikan BPBD terkait bahayanya, tapi masyarakat memang susah diatur,” kata Bupati.

Ia juga menegaskan, bahaya abrasi bukan hanya saat ini namun akan terus berlanjut di waktu mendatang. Selain abrasi, terdapat bahaya lainnya seperti gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami.

“Kan ini juga untuk kepentingan mereka, tapi mereka ngeyel sudah diberi tahu tapi masih membangun di situ. Ini hanya abrasi, kalau sampai ada tsunami apa ga lebih berbahaya,” ungkapnya.(had)

Abrasi Pantai Selatan Kian Menggila

Abrasi Depok

Abrasi Depok

BANTUL (KRjogja.com) - Bupati Bantul Hj Sri Surya Widati melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan bencana abrasi Pantai Depok Parangtritis Kretek serta Pantai Kwaru Srandakan.

“Saya sangat prihatin dengan kejadian ini dan mengimbau kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Bupati Bantul, Jumat pagi (20/09/2013).

Dijelaskan Bupati, abrasi semakin melebar ke utara hingga mendekati bangunan pasar ikan. Bahkan ada empat bangunan pasar ikan di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang hancur diterjang abrasi.

“Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sekaligus menyelamatkan material bangunan, warga terlihat secara sukarela merobohkan bangunan warung ikan yang membujur ke utara. Karena abrasi makin menuju ke arah utara dan nyaris setiap hari abrasi terus terjadi,” urai Bupati.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Drs Dwi Daryanto MSi, menambahkan dibanding abrasi di Pantai Kwaru, abrasi Pantai Depok berbeda terutama kaitannya dengan kondisi bibir pantai bekas abrasi.

“Pantai Depok, kondisi bibir pantai bekas abrasi sangat curam dan bibir pantai nyaris berbentuk sembilan puluh derajat. Sedang di pantai Kwaru, meski hingga pantauan terakhir bangunan lebih banyak yang roboh namun kondisi bibir pantai landai dan tidak curam,” ujar Dwi.

Hingga pantauan terakhir Jumat (20/09/2013), abrasi di Pantai Kwaru mengakibatkan delapan bangunan warung permanen roboh total. Sebagian bangunan yang rawan terkena abrasi mulai dirobohkan pemiliknya.

Untuk mencegah terjadinya abrasi yang semakin parah, maka beberapa bangunan warung ikan yang membujur ke arah utara mulai dirobohkan secara sukarela. Selain mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan, merobohkan juga untuk menyelamatkan sebagian material bangunan yang masih bisa dipakai kembali.

Dalam sidak yang didampingi Sekda Bantul, Drs H Riyantono, MSi, Kepala DPU Bantul, Ir H Heru Suhadi, Bupati tidak segan-segan menyusuri bibir pantai yang terkena abrasi sambil menyaksikan  secara langsung puing-puing bangunan warung yang roboh diterjang air laut. (Aje)