Dagelan Mataram Bangkit di Bantul

(Kedaulatan Rakyat – 25 Januari 2013)
PASCA gempa 2006 kunjungan wisatawan ke Parangtritis berada di titik terendah. Sepanjang pantai yang luas seolah tanah tak bertuan. Pengunjung dari hari ke hari makin menyusut. Warung-warung sepi, jasa penitipan sepeda juga tampak lengang. Semua terjadi setelah isu tsunami berembus di kawasan itu.
Situasi sulit itu memicu Sudarmanto (45) warga Jalan Parangtritis Km 22 Dusun Tegalsari Desa Donotirto Kretek Bantul mendirikan Radio Suara Parangtritis (RSP). Dengan tagline ‘Citra Wisata Seni dan Budaya’ radio itu terus berjuang mempertahankan seni budaya Jawa. “Kami ingin Parangtritis bangkit kembali waktu itu,” ujarnya. Sudarmanto yang juga Direktur RSP bahkan membuat program khas budaya Jawa. Seperti mocopatan, termasuk salawatan.
Meski hanya radio, RSP punya komitmen menjaga kebudayaan Jawa dengan program dagelan Mataram yang digawangi pelawak kenamaan Bantul, Sarno dan Ngatini. Keduanya juga ditopang Bu Ituk, Ny Yatmi, Kasidi serta Mbah Saminto. Sehingga tidak heran bila setiap Selasa malam program dagelan Mataraman selalu gayeng. “Dengan program itu setidaknyakita sudah berupaya melestarikan kesenian asli Jawa,” ujar Sudarmanto Selasa (22/1) malam lalu.
Dari guyonan para pelawak tersebut, Sudarmanto yakin mampu memberikan sumbangan untuk melestarikan seni dan budaya Jawa. Meski tidak semua programnya menggunakan kata pengantar Bahasa Jawa. Dijelaskan, meski tujuan awalnya untuk membangkitkan objek wisata yang lesu akibat isu tsunami. Kini radio yang berada di gelombang AM 828 kHz terus berusaha melestarikan seni budaya. “Program dagelan Mataraman mulai digelar Maret 2010 sampai sekarang,” ujarnya.
Kehadiran RSP ternyata mampu membangun sebuah sikap pentingnya menjaga sebuah kesenian warisan nenek moyang, karena dari sekumpulan pendengar RSP itu pula sejumlah kesenian wayang kulit, ketoprak pernah digelar. “Mereka patungan untuk menggelar pentas wayang,” ujar Sudarmanto. Sedang Sarno selaku pelawak yang dituakan dalam program dagelan Mataraman mengatakan, program dagelan merupakan upaya melestarikan seni budaya Jawa. Sarno yakin bila tidak ada yang peduli dengan kebudayaan, kehancuran tinggal tunggu waktu. “Meski saya dan teman-teman tidak ada gaji, tetapi selalu semangat untuk terus berjuang melestarikan budaya Jawa,” ujarnya. (Roy) -c

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>