Bangunan Rusak Akibat Abrasi, Pedagang Tetap Tak Mau Pindah

abrasi-pantai-selatan

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Warga yang tempat usahanya terkena dampak abrasi Pantai Depok, berencana akan kembali merenovasi bangunan yang telah rusak. Hal itu akan dilakukan setelah kondisi gelombang pantai selatan dirasa kembali normal.

Seorang pemilik rumah makan yang tempatnya sebagian telah terkena abrasi Pantai Depok, Asih, mengaku, sampai saat ini dirinya belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang ancaman bahaya abrasi dari pemerintah.

“Belum pernah ada sosialisasi sama sekali kok di sini, entah dari pemerintah maupun yang lain soal abrasi,” katanya saat ditemui Tribun Jogja di rumah makan miliknya itu, Selasa (24/9/2013).

Menurutnya, meskipun pemerintah memiliki wacana untuk menertibkan pedagang dan meminta pedagang menjauh dari pantai, hal itu tidak menjamin di lokasi baru tersebut akan meningkatkan pendapatan.

“Lagi pula mau kalau direlokasi mau ditempatkan di mana? Kalau dipindah memangnya pendapatan akan membaik?” katanya.

Pihaknya justeru berncana akan melakukan renovasi bangunan yang sebelumnya terdampak abrasi hingga bagian bawah bangunan terdapat rongga akibat tergerus arus. Sebab, menurut warga ombak besar di pantai selatan tidak akan terjadi terus menerus, melainkan hanya di waktu-waktu tertentu.

“Ombaknya itu kan biasanya besar kalau saat kemarau, kalau masuk musim penghujan nanti juga biasanya normal. Malahan nanti pedagang sini mau merenovasi kembali setelah ombaknya normal, paling sebulan lagi,” katanya.

Lurah Desa Parangtritis yang juga Ketua Koperasi Mina Bahari Pantai Depok, Topo mengatakan, Abrasi memang fenomena alam dan masyarakat akan menerima apapun konsekuensi yang harus dihadapi.

“Sekarang kena musibah kita terima, sebenarnya memang masyarakat mengerti salah mendirikan bangunan di sepadan pantai jadi ya biarkan saja. Kalau mau membantu misalnya Rp 1 juta ya silakan terserah,” kata Topo saat ditemui di ruang kerjanya.

Ia mengatakan, yang terjadi saat ini kawasan pinggir pantai merupakan ladang emas, sebab biasanya pengunjung memilih makan sambil menikmati pemandangan laut. Sementara warung yang letaknya agak jauh dari bibir pantai terbukti kurang diminati.

Pihaknya juga menolak rencana pemerintah untuk melakukan penataan kawasan pantai dengan memberi jarak pendirian bangunan minimal 200 meter. Topo menegaskan bahwa masyarakat memilih menerima kondisi alam sebagaimana yang terjadi turun temurun.

“Kalau dipindah juga belum tentu menyelesaikan masalah, kalau ga laku gimana? kan malah menambah masalah baru,” katanya.

Pihaknya pun meminta pada pemerintah tidak perlu melakukan penataan. Karena dari 70 warung di sekitar Pantai Depok, lanjut Topo, seluruhnya sudah sepakat tidak bersedia berpindah dan tetap akan berjualan di kawasan tersebut.

“Itu kena abrasi tapi lama kelamaan akan pulih, kalau ga pulih pun ga masalah biarkan saja. Biarkan kondisi sosial warga sini berjalan sesuai keinginan batin,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Bantul, Sri Suryawidati mengatakan, tidak ada rencana relokasi warga dari pesisir pantai sebab bangunan tersebut bukan tempat tinggal melainkan hanya tempat usaha. Selain itu, bangunan tersebut seluruhnya tidak memiliki ijin.

Pihaknya pun mengaku sudah melakukan sosialisasi terkait bahaya abrasi pesisir pantai selatan.

“BPBD sudah mensosialisasikan pada semua tokoh masyarakat,” kata istri mantan Bupati Bantul Idham Samawi itu.

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan jajaran Muspida Bantul, dan hasilnya akan dibuat garis pantai sepanjang pesisir pantai selatan. Sehingga nantinya tidak boleh ada bangunan berjarak 200 meter dari garis tersebut.

Untuk realisasi pembuatan garis pantai itu, lanjutnya, pihaknya akan menggelar koordinasi dengan Satpol PP dan mengundang tokoh masyarakat serta koordinator masing-masing kelompok masyarakat pesisir.

“Sebab ini juga urusan perut. Sudah disosialisasikan BPBD terkait bahayanya, tapi masyarakat memang susah diatur,” kata Bupati.

Ia juga menegaskan, bahaya abrasi bukan hanya saat ini namun akan terus berlanjut di waktu mendatang. Selain abrasi, terdapat bahaya lainnya seperti gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami.

“Kan ini juga untuk kepentingan mereka, tapi mereka ngeyel sudah diberi tahu tapi masih membangun di situ. Ini hanya abrasi, kalau sampai ada tsunami apa ga lebih berbahaya,” ungkapnya.(had)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>